Kontroversi Tahun Baru Masehi di Mata Warga Kabupaten Malang
Reporter
Nana
Editor
Yunan Helmy
01 - Jan - 2018, 10:13
Pro dan kontra merayakan tahun baru Masehi terus terjadi. Terutama di dunia maya (media sosial) dengan serangkaian pesan berantai yang menuliskan bahwa tahun baru Masehi merupakan tahun baru orang-orang kafir yang merepresentasikan budaya Barat.
Di sisi lain yang pro, merayakan tahun baru Masehi merupakan suatu bentuk mengakhiri masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Tidak ada hubungan dengan sikap keimanan dalam beragama.
Lepas dari kebenaran dari dua kubu tersebut, merayakan tahun baru Masehi bagi warga Kabupaten Malang memiliki arti yang berbeda. Juga lepas dari berbagai beban sejarah yang mengikuti adanya tahun baru Masehi.
Suwarno (48), warga Turen, bersama keluarganya menghabiskan waktu pergantian tahun di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Dia mengatakan, dirinya merayakan tahun baru bukan karena persoalan yang dikemukakan MalangTIMES.
"Waduh terlalu njlimet, Mas, kalau dikait-kaitkan dengan agama. Saya dan keluarga merayakan tahun baru di sini agar bisa berkumpul dan mencari hiburan saja," ujarnya, kemarin (31/12/2017).
Suwarno dan keluarga tidak ambil pusing dengan berbagai pro dan kontra merayakan tahun baru Masehi. Baginya, bisa mengajak ramai-ramai keluarga di hari libur dan bercengkerama di luar rumah adalah berkah. "Karena saya jarang di rumah karena pekerjaan. Kebetulan libur, saya ajak ke Kanjuruhan," ucap supir truk antar-provinsi ini.
Hal yang sama juga disampaikan ibu rumah tangga asal Gondanglegi bernama Siti (45) yang membawa dua anaknya menikmati pergantian tahun secara sederhana. Siti menyampaikan, setahun sekali lepas dari urusan domestik rumah tangga dan menghibur anak-anaknya adalah kenikmatan.
"Bisa bebaskan anak-anak bermain dan jajan di akhir tahun sudah menyenangkan bagi saya," ungkap Siti yang sehari-hari disibukkan dengan urusan rumah ini.

Bagi mereka, merayakan tahun baru bukan persoalan berat terkait dengan keyakinan beragama. Tapi lebih pada mencari kesenangan bersama keluarga walaupun secara sederhana. "Moso gara-gara niup terompet dan cari hiburan tahun baru, berdosa, Mas," kata Asmuni, warga Kepanjen.
Lepas dari persoalan tersebut, ribuan orang yang memadati Stadion Kanjuruhan Kepanjen, tadi malam sampai dini hari, telah membuat para penjual makanan, minuman dan mainan anak-anak serta lainnya mengucup syukur. Pasalnya, mereka meraup penghasilan yang terbilang besar di malam pergantian tahun tersebut.
Sucipto, penjual sempol asal Kepanjen, mengatakan jualannya habis setelah detik pergantian tahun. "Kalau hari biasanya masih bawa pulang dagangan. Ini laris manis. Alhamdulillah," ujar dia.
Pun, para pedagang lainnya yang ikut kecipratan rezeki mengalami hal sama dengan Sucipto. Bahkan para juru parkir pun meraup hasil lumayan besar. "Lumayan bisa bawa pulang uang cukup banyak," kata salah satu jukir yang membrandol parkir roda dua sebesar Rp 3.000 ini. (*)
