Khutbah Jumat 13 Maret 2026: Cara Meraih Lailatul Qadar dengan 4 Amalan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
13 - Mar - 2026, 10:22
JATIMTIMES - Pada khutbah Jumat kali ini akan dibahas beberapa amalan yang dapat dilakukan umat Islam untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar. Malam istimewa ini merupakan karunia besar yang Allah SWT anugerahkan khusus kepada umat Nabi Muhammad.
Lailatul Qadar dikenal sebagai malam yang penuh kemuliaan. Setiap ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar karena dilipatgandakan oleh Allah SWT. Bahkan dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang nilainya lebih baik dibandingkan ibadah selama seribu bulan.
Baca Juga : Panduan Lengkap Salat Idulfitri 2026: Niat, Bacaan, Tata Cara hingga Doa
Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkan malam-malam terakhir di bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan amalan kebaikan agar dapat meraih keberkahan Lailatul Qadar. Dalam naskah khutbah ini dijelaskan empat amalan yang dapat dilakukan sebagai ikhtiar untuk menggapai malam penuh kemuliaan tersebut.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي نَزَّلَ الْقُرْآنَ فِيْ لَيْلَةِ
الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِخَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ كِتَابِهِ الْكَرِيْم: اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib mengajak kita semua untuk terus meningkatkan ketakwaan dan memperkuat rasa syukur kepada Allah Swt. Dialah yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat kepada kita, di antaranya nikmat iman dan nikmat takwa.
Karena itu sudah semestinya kita sebagai hamba berusaha menjaga dan menumbuhkan ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Ketakwaan menjadi jalan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Swt., sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Sebagai hamba, kita memang dituntut untuk bertakwa, sebab takwa menjadi sebab datangnya ampunan dari Allah Swt. Dengan bekal takwa pula kita mampu menjalankan berbagai ibadah yang menjadi tugas utama manusia selama hidup di dunia.
Selain itu, rasa syukur juga harus terus kita pelihara. Allah Swt. telah menganugerahkan nikmat yang tidak terhitung jumlahnya kepada kita. Rasa syukur itulah yang menunjukkan bahwa manusia adalah hamba yang lemah, yang selalu membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari Allah Swt.
Hadirin jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Dalam khutbah kali ini, khatib juga mengingatkan diri sendiri dan seluruh jemaah agar semakin memperbanyak amal ibadah menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Kita dapat mengisinya dengan memperbanyak zikir, melaksanakan salat sunnah, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama melalui sedekah.
Nasihat untuk menghidupkan hari-hari terakhir Ramadhan tentu sudah sering kita dengar. Hal itu bukan tanpa alasan, karena pada penghujung Ramadhan terdapat sebuah malam yang sangat istimewa, malam yang kemuliaannya melebihi seribu bulan.
Malam yang dimaksud adalah malam Lailatul Qadar, malam yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Waktu datangnya malam ini dirahasiakan oleh Allah Swt. sebagai ujian bagi kesungguhan hamba-hamba-Nya dalam beribadah. Namun Rasulullah saw. memberi isyarat bahwa malam tersebut berada di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Artinya: “Rasulullah saw. bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh hari terakhir (Ramadhan), melebihi kesungguhan beliau pada hari-hari lainnya.” (HR Muslim, Ibnu Majah, Khuzaimah, dan Ahmad).
Dalam riwayat lain dari Aisyah ra disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya: “Aisyah ra berkata: apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah saw. menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarganya, dan semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,
Malam Lailatul Qadar tidak hanya istimewa karena nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam itu juga menjadi mulia karena pada saat itulah Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Turunnya Al-Qur’an pada malam tersebut menjadi pengingat bagi manusia tentang tujuan hidupnya serta menjadi jalan pembebasan dari berbagai bentuk kezaliman yang pernah terjadi sebelum datangnya wahyu.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.”
Dari ayat dan hadis tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebagai hamba kita perlu menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat. Karena itu, memperbanyak ibadah pada malam-malam mulia ini sangat dianjurkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt.
Baca Juga : Lebaran Enaknya Liburan ke Mana? Ini Rekomendasi Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi
Ada beberapa amalan yang dapat dilakukan agar kita bisa meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.
Pertama, memperbanyak salat sunnah secara istiqamah, terutama salat-salat sunnah yang dianjurkan seperti salat tahajud dan salat tasbih. Waktu malam, yaitu antara setelah salat Isya hingga menjelang Subuh, adalah waktu yang penuh keberkahan dan menjadi salah satu saat terbaik untuk berdoa. Karena itu, memperbanyak salat sunnah pada malam-malam akhir Ramadhan sangat dianjurkan.
Kedua, memperbanyak zikir dan doa memohon ampun kepada Allah Swt. Amalan ini termasuk jalan untuk meraih keberkahan malam Lailatul Qadar. Zikir juga merupakan perintah langsung dari Allah Swt., sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-A’raf ayat 205:
وَٱذْكُر رَّبَّكَ فِى نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ ٱلْجَهْرِ مِنَ ٱلْقَوْلِ بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْغَٰفِلِينَ
Artinya: “Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak dengan suara yang keras, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS Al-A’raf: 205).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa di tengah kesibukan apa pun, sebaiknya kita tetap meluangkan waktu untuk berzikir kepada Allah Swt., kapan pun dan di mana pun.
Ketiga, melakukan i’tikaf di masjid. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Amalan ini juga dilakukan oleh Rasulullah saw., sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyidatina Aisyah:
عَنْ عَائِشَة كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya: “Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah saw. senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Keempat, memperbanyak sedekah dengan penuh keikhlasan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling menolong dan membantu sesama. Apalagi sedekah yang dilakukan pada bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terakhir.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ صَدَقَةُ رَمَضَانَ
Artinya: “Dari Anas ra berkata: Rasulullah saw. pernah ditanya, sedekah apakah yang paling utama? Beliau menjawab, sedekah pada bulan Ramadhan.” (HR Al-Baihaqi).
Hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan bersedekah pada bulan Ramadhan, terlebih lagi pada hari-hari terakhirnya ketika bulan yang penuh berkah ini akan segera berlalu.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Amin Ya Rabbal Alamin.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
