3 Kisah Sahabat Nabi yang Cocok Dibacakan untuk Anak, Ajarkan Kesabaran dan Kepedulian

Reporter

Binti Nikmatur

18 - Mar - 2026, 04:36

Ilustrasi gambar Umar Bin Khattab, salah satu sahabat nabi yang kisahnya bisa dibacakan untuk anak-anak. (Foto: ist)

JATIMTIMES - Membacakan cerita sebelum tidur bisa menjadi cara sederhana untuk menanamkan nilai-nilai baik kepada anak. Salah satu pilihan yang sering direkomendasikan adalah kisah sahabat Nabi karena sarat dengan teladan tentang keberanian, kesabaran, hingga kepedulian terhadap sesama.

Para sahabat Nabi dikenal sebagai generasi terbaik yang hidup bersama Nabi Muhammad SAW. Mereka menyaksikan langsung akhlak Rasulullah sekaligus berusaha meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Berikut tiga kisah singkat sahabat Rasulullah yang inspiratif dan bisa dibacakan kepada anak.

1. Kisah Umar bin Khattab Menolong Musafir yang Kelaparan

Suatu malam, Umar bin Khattab bersama pelayannya bernama Aslam berjalan menyusuri Kota Madinah. Dari kejauhan, mereka melihat sekelompok musafir yang tampak kedinginan dan terjebak perjalanan malam.

Ketika mendekat, Umar melihat seorang wanita duduk bersama anak-anaknya yang menangis di dekat sebuah periuk yang dipanaskan di atas api.

Umar pun bertanya, "Apa yang terjadi?"

Wanita itu menjawab, "Kami kemalaman dan kedinginan,"

"Lalu mengapa anak-anakmu menangis?" tanya Umar lagi.

"Mereka lapar," jawab wanita itu.

Umar merasa heran karena wanita tersebut terlihat seperti sedang memasak sesuatu. Namun ternyata isi periuk itu hanyalah air.

Wanita tersebut menjelaskan bahwa ia sengaja merebus air agar anak-anaknya mengira makanan sedang dimasak sehingga mereka bisa tenang hingga tertidur.

"Di periuk itu hanya ada air, aku sengaja memasaknya agar mereka bisa tenang hingga tertidur. Allah akan menjadi hakim antara kami dan Umar."

Wanita itu tidak mengetahui bahwa orang yang berbicara dengannya adalah Umar sendiri.

Umar pun berkata, "Semoga Allah merahmatimu, sedangkan Umar tidak mengetahui keadaanmu."

Wanita itu menjawab, "Ia mengatur kami, memimpin kami, tetapi melupakan kami,"

Mendengar itu, Umar langsung pulang bersama Aslam untuk mengambil sekarung gandum dan seember daging. Ia kemudian kembali dan memberikan bahan makanan tersebut kepada wanita itu.

Tidak berhenti sampai di situ, Umar bahkan memasakkan makanan itu sendiri hingga anak-anak wanita tersebut bisa makan dan tertidur dengan kenyang.

Wanita itu pun berkata, "Semoga Allah membalas kebaikanmu, sungguh engkau lebih mulia dibanding Amirul Mukminin (Umar bin Khattab RA)."

Umar menjawab dengan rendah hati, "Bicaralah yang santun, jika engkau menemui Amirul Mukminin, Insyaallah engkau akan mendapatiku di sana."

Setelah memastikan anak-anak tersebut tertidur dalam keadaan kenyang, Umar berkata kepada pelayannya, "Wahai Aslam, sesungguhnya rasa lapar membuat anak-anak itu tidak bisa tidur dan menangis. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan mereka sudah tidur dan tidak menangis lagi."

2. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Pengemis Buta

Kisah lain datang dari sahabat dekat Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Dikisahkan, di sebuah pasar terdapat seorang pengemis buta yang sering mencaci dan menjelek-jelekkan nama Nabi Muhammad SAW setiap hari.

Meski demikian, Rasulullah tetap mendatanginya dan menyuapi makanan dengan lembut tanpa pernah memperlihatkan siapa dirinya.

Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar melanjutkan kebiasaan tersebut. Ia datang dan menyuapi pengemis itu seperti yang dilakukan Nabi sebelumnya.

Suatu hari pengemis itu bertanya, "Mana orang yang biasa menyuapiku?"

Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik

Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa datang ke sini dan menyuapimu,"

Namun pengemis itu merasa ada yang berbeda.

"Bukan! Bukan engkau. Orang yang datang ke sini selalu menyuapiku dengan lembut. Berbeda denganmu. Kau pasti bukan orang itu!"

Mendengar hal tersebut, Abu Bakar akhirnya berkata jujur.
"Ya, aku bukanlah orang itu. Orang yang biasa ke sini telah meninggal. Dia adalah Muhammad SAW."

Mendengar penjelasan itu, pengemis buta tersebut langsung menangis. Ia menyesal karena selama ini telah mencaci seseorang yang justru begitu baik kepadanya.

3. Kisah Keberanian Abu Bakar Membela Kebenaran

Abu Bakar Ash-Shiddiq lahir di Makkah pada tahun 572 Masehi, hanya sekitar satu tahun lebih muda dari Rasulullah. Nama aslinya adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab bin Lu'ai.

Ia dikenal sebagai sosok yang berakhlak mulia, pemberani, dan tidak pernah ragu menyampaikan kebenaran.

Suatu hari, Rasulullah mengumpulkan sekitar 88 sahabat dan pengikutnya. Pada saat itu dakwah Islam masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Abu Bakar kemudian berkata, "Wahai Rasulullah, sudah saatnya kita menyampaikan ajaran Allah SWT secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi lagi."

Rasulullah menjawab, "Tetapi, jumlah kita masih sedikit wahai Abu Bakar!"

Namun Abu Bakar tetap bersemangat.
"Tidak, wahai Rasulullah! Sudah saatnya kita melakukan dakwah ini dengan lebih serius."

Keberanian Abu Bakar mendorong umat Islam untuk mulai menyampaikan ajaran Islam secara terbuka.

Selain dikenal berani, Abu Bakar juga sangat sabar. Suatu ketika seorang Arab Badui datang dan mencelanya saat ia sedang bersama Rasulullah.

Abu Bakar hanya tersenyum dan tidak membalas. Ketika ejekan itu terus berlanjut hingga beberapa kali, ia akhirnya terpancing emosi dan membalas.

Saat itu Rasulullah tiba-tiba meninggalkan rumah Abu Bakar. Ia pun mengejar Nabi dan bertanya mengapa beliau pergi.

Rasulullah menjelaskan, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang lalu mencelamu dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah."

"Begitupun yang kedua kali, Ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya."

"Namun, Ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya."

Mendengar penjelasan itu, Abu Bakar sangat menyesal dan bertekad untuk lebih menahan amarah di kemudian hari.

Demikian kisah-kisah sahabat Nabi yang menarik untuk didengar anak-anak. Dari keberanian Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga kepedulian Umar bin Khattab, semua memberikan pelajaran berharga tentang akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari.