Mahasiswa di Kota Malang Diduga Bunuh Diri Loncat dari Apartemen, DPRD Sentil Kampus, Pemerintah hingga Keluarga
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Dede Nana
25 - Mar - 2026, 01:19
JATIMTIMES - Kota Malang kembali diguncang kabar duka. Seorang mahasiswa dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri dengan cara loncat dari Hotel dan Apartemen Everyday, kawasan Jalan Soekarno-Hatta pada Rabu (25/3/2026) sekitar pukul 00.15 WIB dini hari.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus serupa yang terjadi di lingkungan pelajar dan mahasiswa, sekaligus menjadi peringatan keras bagi semua pihak.
Baca Juga : Ganjil Genap Jakarta Berlaku Lagi! Ini 25 Ruas Jalan yang Kena Aturan
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian tersebut langsung ditangani aparat kepolisian. Proses identifikasi dan pendalaman penyebab masih terus dilakukan, termasuk menggali latar belakang korban dan kondisi psikologisnya sebelum kejadian. Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait motif pasti, namun dugaan kuat mengarah pada persoalan personal.
Kasus ini juga mendapat perhatian serius dari Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita. Ia menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental di kalangan mahasiswa tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
“Saya sudah sampaikan kalau tidak waspada, tentu akan berbahaya,” ujar Amithya, Rabu (25/3/2026) pagi.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak. Perlu keterlibatan bersama antara kampus, pemerintah, hingga lingkungan keluarga. Ia menilai, pemerintah daerah dapat mengambil peran dalam memberikan fasilitasi maupun pendampingan.
“Kalau dari pemerintah, mungkin bisa memberikan fasilitasi atau pendampingan,” tambahnya.
Namun, Amithya juga mengakui bahwa deteksi dini di level paling kecil bukan perkara mudah. Hal ini karena persoalan mental kerap bersifat privat dan tidak mudah terpantau. “Kalau dari unit terkecil, aware terhadap itu sulit karena privat,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai kunci utama pencegahan. Dengan sinergi yang kuat, potensi kasus serupa diyakini dapat ditekan. “Kalau kolaborasi bisa,” tegasnya.
Apartemen Everyday sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu hunian yang banyak diminati mahasiswa di Kota Malang, terutama karena lokasinya yang strategis di kawasan pendidikan. Karena itu, ia menilai perlu adanya langkah antisipatif yang lebih serius dari berbagai pihak.
“TKP di Kota Malang dan jadi favorit banget. Harus ada antisipasi,” ungkapnya.
Baca Juga : Mahasiswa Tewas Terjatuh dari Lantai 11 Apartemen di Kawasan Soehat Malang, Diduga Bunuh Diri
Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah membangun komunikasi intensif dengan pihak kampus, termasuk para rektor. Tujuannya agar pengawasan dan pendampingan terhadap mahasiswa bisa diperkuat sejak dini. “Mungkin bicara dengan para rektor,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong penyusunan panduan atau buku pegangan mahasiswa yang lebih komprehensif. Buku tersebut diharapkan tidak hanya berisi informasi akademik, tetapi juga mencakup edukasi terkait kesehatan mental dan akses bantuan.
“Buku guiden mahasiswa harus dibuat lengkap. Agar mereka tahu segala sesuatu,” jelasnya.
Amithya menekankan bahwa pencegahan idealnya dimulai dari lingkungan kampus sebagai ruang terdekat mahasiswa. Setelah itu, barulah pemerintah dapat memperkuat melalui kebijakan dan dukungan, termasuk melibatkan keluarga.
“Didalam kampus dulu, baru pemerintah dan lalu kita bisa senggol keluarganya,” katanya.
Ia optimistis, jika seluruh elemen mampu membangun komunikasi dan kepedulian yang baik, maka potensi tragedi serupa bisa diminimalkan. “Kalau itu terjalin dengan baik, sebenarnya bisa mencegah,” pungkasnya.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap kehidupan mahasiswa, ada sisi rentan yang membutuhkan perhatian serius. Kesehatan mental bukan lagi isu pinggiran, melainkan kebutuhan mendesak yang harus ditangani bersama.
