Pengeras suara atau Voice Recorder yang terpasang di traffic light perempatan Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, disoal. Warga sekitar meminta, rekaman suara tersebut, diperkecil volumenya, terutama saat malam tiba. Dan jika perlu dipindah ke lampu merah tempat lain. Sebab, suaranya dianggap keras dan mengganggu warga.
Keberatan tersebut disampaikan Susi Farida, warga yang dekat dengan perempatan Pilang, selatan jalan, Senin (5/3) sore. Dalam akun facebok-nya ia menanyakan dinas yang memasang pengeras suara tersebut. Alasannya, anaknya tidak bisa tidur lantaran terusik dengan suara kerasnya alat voice recorder tersebut. Terutama di malam hari. Dari tulisan diwall-nya tersebut, rekan facebook-nya menyarankan untuk mendatangi dinas Perhubungan (Dishub) setempat.
Saat ditemui di rumahnya, perempuan yang difacebooknya bernama Susi UI Farida, tidak bisa ditemui, lantaran sedang tidur sore. Wartawan ditemui seorang perempuan yang diperkirakan orang tua Susi. Saat ditanya, apakah Susi ada di rumah, perempuan tersebut mengaku, sedang tidur. Ia kemudian membenarkan kalau suara keras voice recorder didengar sampai ke rumahnya. "Ya memang. Anak Susi terganggu enggak bisa tidur, kalau malam. Terutama anak yang baru lahir," jelasnya.
Perempuan paruh baya yang rumahnya di timur SPBU Pilang itu meminta pemerintah untuk memperkecil volumenya, utamanya jika malam tiba. Dan jika perlu, alat pengeras suara tersebut dipindah ke tempat lain. Apalagi menurutnya himbauan kendaraan besar untuk tidak masuk kota, yang terdengar di pengeras suara tersebut, tidak ada gunanya. "Kan sudah ada rambu lalu lintas, truk dan bus dilarang masuk. . Lebih baik kan dilepas," pintanya.
Hal senada juga disampaikan Hermanto, yang juga warga sekitar perempatan. Pria yang memiliki usaha berlokasi di jalan Brantas itu, meminta volume pengeras suara dikecilkan, kalau malam. Dan jika perlu, alat tersebut dipindah ke tempat lain. Suara himbauan yang diperdengarkan lewat pengeras suara itu, tidak efektif, bahkan menganggu warga. "Kan suaranya menghimbau kendaraan besar dari arah barat, tidak boleh masuk. Mereka bisa belok kiri lewat JLU atau belok kanan lewat Jalan Brantas ke Jelur lingkar selatan," tandasnya.
Namun kenyataannya, menurut lrlaki tang biasa dipanggil Heri ini, masih ada truk dan bus yang menerobos rambu larangan. Mereka masuk kota tidak menghiraukan himbauan yang keluar dari voice recorder. Tentang kerasnya volume, ia membenarkan. Sebab, meski rumahnya sekitar 300 san meter dari perempatan, namun suaranya masih terdengar dari rumahnya. ")a masih kedengaran dari rumah. Padahal rumah saya agak jauh dari lampu merah. Terutama saat malam. Kalau malam kan hening. Ya suara pengeras itu yang terdengar," pungkasnya.
Saat dikonfirmasi, kepala Dishub mengaku Sumadi, tidak tahu kalau di perempatan Pilang dipasangi voice recorfer yang meresahkan warga. Dimungkinkan alat perekam dan pengeras suara tersebut Satlantas Polresta. Karenanya, ia akan berkoordinasi dengan Satlantas untukk menenyakan. Meski demikian, Dishub tidak menyalahkan, karena setlantas memasang voice recorder untuk mengingatkan dan menghimbau pengendara terutama kendaraan bessar dan bertonase besar. "Bukan kami yang memasang. Mungkin Satlantas. Kami akan menanyakan ke Sat lantas," ujarnya.
Disebutkan, Dishub memang memasang alat seperti itu, namun isi suaranya tentang sosialisasi Undang-undang Lalu lintas yang dipasang di sejumlah lampu merah. Lantaran bukan dinasnya yang memasang, pihaknya akan mengkroscek keberadaan voice recorder yang ada di perempatan Pilang. Tentang keluhan, Sumadi akan menyampaikan ke Satlantas. "Hari ini saya minta petugas kami untuk mengecek. Setelah kami mendapat laporan, kami akan segera menghubungi Kasat lantas. Jadi kami tidak punya kewenangan untuk melepas kemudian dipindah ke tempat lain.
Terpisah, Kasat Lantas AKP Alpo Gohan, mengaku, pihaknya yang memasang voice recorder yang disoal warga untuk menghimbau dan mengingatkan sopir kendaraan besar dan berat. Namun jika masyarakat merasa terganggu dengan volume suaranya, Kasat lantas akan mengecilkan volumenya, terutama saat malam tiba. "Terima kasih ya masukannya. Akan kami evaluasi. Untuk sementara kami kecilkan volumenya. Mulai pukul18.00 sampai pagi, Ya biar warga yang dekat tidak terganggu," kata dia.
Dia juga menjelaskan pemasang alat itu, karena masih ada kendaraan yang masuk kota. Terutama saat tidak ada petugas yang jaga di perempatan jalan tersebut.
