Wow, Ternyata Ada Perbedaan antara Al-Qur'an Sekarang dengan Al-Qur'an Kuno, ini Letak Perbedaannya | Probolinggo TIMES

Wow, Ternyata Ada Perbedaan antara Al-Qur'an Sekarang dengan Al-Qur'an Kuno, ini Letak Perbedaannya

Feb 15, 2021 11:14
Alquran (Foto: Quizizz)
Alquran (Foto: Quizizz)

INDONESIATIMES- Tak disangka ternyata ada perbedaan antara Al-Qur'an sekarang dengan Al-Qur'an zaman dahulu atau kuno. Namun, perbedaan itu tidak terletak pada bacaan atau artinya.  

Perbedaan ada pada penulisan huruf yang pada zaman kuno Alquran menggunakan tulisan Arab kuno atau yang lebih dikenal dengan Hijazi. Sementara untuk isi bacaan dan artinya Al-Qur'an kuno dan Al-Qur'an sekarang sama saja.  

Baca Juga : Benarkah Bayi yang Menangis Saat Baru Dilahirkan Karena Diganggu Setan? Begini Penjelasannya

Melansir melalui channel YouTube Ayatuna Ambassador, dijelaskan jika sebuah naskah Al-Qur'an kuno telah ditemukan dengan nama Naskah Tubingen. Ini merupakan naskah Al-Qur'an tertua ketiga setelah naskah Al-Qur'an San'a dan Birmingham.  

Naskah Tubingen ditulis dengan menggunakan tulisan Arab kuno yakni Hijazi. Bentuk tulisan ini lebih tua dibanding tulisan Kufik.  

Image
Foto: YouTube Ayatuna Ambassador

"Awal mula, terkait sejarah naskah ini merupakan naskah Al-Qur'an yang dulunya ada di Suriah," ujar Ketua Pusat Informasi Islam, Dr. Shabir Ally.

Ia lantas menjelaskan jika beberapa diplomat asal Jerman membawanya ke Jerman dan sekarang disimpan di perpustakaan Universitas Tubingen.

"Disana naskah ini sudah dipelajari dan dinyatakan sebagai naskah kuno dari hasil uji Karbon yang dilakukan oleh Otoritas Universitas dengan tingkat akurasi uji 95,4 persen, berasal dari masa abad ke 649-675 Masehi," ujarnya.

Dengan begitu, artinya naskah ini ditulis sangat dekat dengan zaman Nabi Muhammad SAW. Meski bukan naskah Al-Qur'an tertua, namun naskah Tubingen ini ditulis sekitar 20 hingga 40 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 632 Masehi.

Naskah ini tentunya perlu kita hargai terkait dengan usianya dan kesesuaiannya dengan apa yang dibaca umat Islam saat ini. "Maka di sini kita punya dokumen yang tidak hanya mengkonfirmasi apa yang muslim baca sekarang, tapi juga pada masa orang-orang yang hidup dan mendengar apa yang disampaikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, jadi mereka tahu Alquran seperti apa," lanjut Dr Shabir Ally.  

Selain itu, dikatakan pula mereka juga memiliki konfirmasi yang mengagumkan terkait keakuratan dan keaslian yang terjaga dari teks Alquran.  

Apa itu huruf Hijazi?

Sebenarnya, pada masa itu, tulisan menggunakan huruf Hijazi sudah lengkap. Namun masih belum sempurna tanpa tanda baca titik dan harakaf.  

Huruf-huruf yang sama bentuk, tapi berlainan ejaannya belum dibedakan dengan titik. Seperti: ba', ta', tsa', jim, ha', kha', dal, dazal, ra, za dan lainnya.  

Tentunya penyempurnaan ini sangat dibutuhkan karena munculnya kasus kesalahan saat membaca ayat Al-Qur'an. Kesalahan membaca ayat Al-Qur'an ini tentu saja merupakan hal fatal karena bisa merubah makna dari ayat tersebut.

Bisa diartikan jika tulisan Hijazi, yaitu bentuk tulisan yang merupakan penyempurnaan dari rentetan pertumbuhan dan perkembangan tulisan Arab dalam proses mencari bentuk kesempurnaan huruf yang memenuhi kebutuhan bahasa.

Lalu disempurnakanlah dengan menciptakan syakal. Pada awal abad ke-7 Masehi, awal daulah Umawiyah, Ziyad bin Abi Sufyan meminta kepada seorang ahli Bahasa Arab, Abu Aswad Al-Duali untuk menciptakan syakal (tanda baca/harakat) untuk mempermudah membaca Al-Qur'an dan meminimalisir kesalahan saat membaca. Tanda baca yang diciptakan berupa titik-titik.

Baca Juga : Lewat Bimbingan Mualaf Center Indonesia Malang, 40 Warga Malang Raya Jadi Mualaf

-          Titik satu disebelah kiri huruf berarti dhammah (u), seperti tulisan(ط)  maka dibaca thu.

-          Titik satu tepat di atas huruf berarti fathah (a).

-          Titik satu tepat di bawah huruf seperti kasrah (i).

-          Bila titik didobelkan (dua titik) maka fungsinya menjadi tanwin (un, an, in).

Selanjutnya, yakni membedakan huruf yang sama bentuk dengan garis. Pada masa pemerintahan Abdul Malik Bin Marwan (685-705 M) seorang gubernur bernama Al-Hajjaj Bin Yusuf Al-Tsaqafi meminta Nasr Bin ‘Ashim dan Yahya Bin Ya’mar untuk memberi tanda pada huruf-huruf yang sama bentuknya tapi berbeda ejaan. 

Nasr dan Yahya selanjutnya menciptakan tanda berupa garis-pendek yang diletakkan di atas atau di bawah huruf. Garis pendek itu bisa satu, dua atau tiga. Misalnya : ba’, diberi satu garis pendek di atas huruf, tsa’, diberi tiga garis pendek di atas huruf, dan seterusnya. 

Bila garis-pendek berjumlah tiga maka yang satu diletakkan di atas dua garis pendek yang berjajar. Garis-pendek yang berfungsi untuk membedakan huruf ini justru dibuat dengan tinta yang sama dengan tinta untuk menulis huruf, hitam. Tanda titik dan garis-pendek tetap dipakai selama pemerintahan Bani Umayyah sampai awal pemerintahan Abbasiyah ±685-750 M.

Lalu muncullah, membalik tanda-tanda. Setelah beberapa waktu, sistem penandaan titik dan garis pendek mengalami perubahan. Munculnya keluhan dari pembaca Alquran mengenai banyaknya tanda yang harus disandang huruf-huruf dalam ayat Alquran yang dianggap menyulitkan. 

Selain itu model penandaan titik dan garis-pendek dengan menggunakan tinta memunculkan problem lain. Tinta yang tidak bersifat permanen, artinya dalam beberapa waktu sering kali menjadi kabur dan bahkan hilang, bisa terkena air atau karena faktor lain menyebabkan garis-garis pendek menjadi seperti titik-titik atau sebaliknya, titik-titik menjadi seperti garis.

Sementara itu tinta merah yang digunakan untuk menulis tanda titik karena terlalu lama menjadi kehitam-hitaman menyerupai huruf atau garis pendek yang memang ditulis dengan tinta hitam. Kesulitan ini lantas menggerakkan seorang ahli tata Bahasa Arab (nahwu/sintaksis), Al-Khalil Bin Ahmad (w. 170 H) mengadakan perubahan. 

Al-khalil membalik fungsi tanda-baca tanda-baca yang diciptakan Abu Aswad dan Nasr-Yahya. Titik-titik yang awalnya merupakan harakat sekarang dijadikan tanda untuk membedakan huruf yang berbentuk sama namun berbeda ejaan. Dan untuk tanda baca (syakal/harakat) al-Khalil mengambil dari huruf-huruf yang menjadi sumber bunyi (huruf vokal). Alif sebagai sumber bunyi ‘a’. Ya’ sebagai sumber bunyi ‘I’. Wawu sebagai sumber bunyi ‘u’. Kepala kha’ sebagai tanda mati (sukun).

Topik
Ayat Al Qur'an penjelasan Al Qur'an huruf hijazi Berita Islami

Berita Lainnya