Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa Harlah 1 Abad NU

Ribuan Jamaah Mujahadah Kubro dari Surabaya Transit di GKJW Malang, Disambut Hangat Biarawati

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Nurlayla Ratri

08 - Feb - 2026, 02:00

Placeholder
Sejumlah biarawati saat menyambut jemaah putri muslim dari PCNU Surabaya (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

 

JATIMTIMES - Ribuan jemaah Nahdlatul Ulama (NU) dari Kota Surabaya mendapat sambutan hangat saat transit di Kantor Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wilayah Jawa Timur, di Jalan S Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Transit ini menjadi bagian dari rangkaian keberangkatan Mujahadah Kubro dalam rangka satu abad masehi NU Indonesia yang dipusatkan di Stadion Gajayana.

Menariknya, ribuan jemaah muslim itu disambut hangat oleh para pengurus GKJW hingga biarawati. Mereka menyambut dengan senyum hangat. Tak hanya itu, minuman hangat dan makanan ringan menambah kemesraan hubungan dua insan agama tersebut tanpa ada sekat pemisah. 

Baca Juga : Gelombang Jemaah NU Terus Mengalir ke Malang Jelang Mujahadah Kubro 1 Abad

Ketua Panitia keberangkatan jemaah Mujahadah Kubro dari PCNU Surabaya, Muhammad Syafi’i, menyebutkan bahwa pihaknya sejak jauh hari telah melakukan koordinasi dengan GKJW agar proses transit berjalan lancar. Koordinasi dilakukan sekitar sepekan sebelum pelaksanaan kegiatan.

“Kami mewakili dari panitia rombongan Mujahadah Kubro dalam rangka satu abad masehi NU Indonesia. Kami pertama mengucapkan terima kasih kepada Bapak Nataniel dan anggota karena rombongan Mujahadah dari Surabaya sudah koordinasi sebelum acara H-1 minggu kemarin untuk bisa transit di sini,” ujar Syafi’i.

Ia menjelaskan, rombongan PCNU Surabaya datang menggunakan sekitar 21 bus besar, ditambah sejumlah kendaraan pendukung seperti mobil van dan Elf. Selain itu, masih ada jemaah yang datang menggunakan kendaraan pribadi.

“Sehingga memudahkan teman-teman satu rombongan kurang lebih bus 21 bus dan mobil-mobil van dan Elf kurang lebih tujuh yang sudah masuk, tapi untuk jelasnya nanti kurang tahu, yang jelas insya Allah tambah yang mobil-mobil pribadi,” katanya.

Jumlah jemaah dari PCNU Surabaya yang transit di Kantor Majelis Agung GKJW diperkirakan mencapai 1.200 orang. Seluruhnya merupakan jemaah dari PCNU Kota Surabaya yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi Mujahadah Kubro.

“1.200. Dari PCNU Surabaya saja. Jadi yang ada di Kantor GKJW Wilayah Jawa Timur yang ada di Malang ini transitnya khusus dari PCNU Kota Surabaya,” jelas Syafi’i.

Menurutnya, kerja sama lintas iman semacam ini bukan hal baru. Hubungan baik antara NU dan GKJW, khususnya di Jawa Timur, telah terjalin sejak lama dan terus dirawat hingga kini.

“Iya, sebenarnya kerukunan itu sudah lama terjalin. Dari kami PCNU Surabaya, dari pihak GKJW alhamdulillah tiap tahun juga ada silaturahmi sekalian halal bihalal itu pasti,” ungkapnya.

Syafi’i pun menyampaikan apresiasi mendalam atas sambutan dan fasilitas yang diberikan GKJW. Ia menegaskan, pihaknya hanya bisa membalas kebaikan tersebut dengan doa.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerukunan beragama khususnya yang ada di Jawa Timur, khusus lagi yang ada di Surabaya perihal dengan GKJW. Maka dari itu kami tidak bisa membalas kebaikan, hanya mengucapkan bahasa NU-nya kami ‘Jazakumullah khairan katsiran’,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Agung GKJW, Pendeta Nataniel Hermawan, menyatakan bahwa pihaknya menyambut kedatangan jemaah NU dengan penuh sukacita. Menurutnya, momentum Mujahadah Kubro 1 abad NU bukan sekadar kegiatan teknis transit, melainkan ikhtiar merawat persaudaraan lintas iman.

Baca Juga : Prabowo Tiba di Malang, Bakal Hadiri Mujahadah Kubro 1 Abad NU Besok

“Ketika saudara-saudara dari pengurus PCNU Kota Surabaya berkunjung terkait dengan Mujahadah Kubro ini, kami sangat senang dan langsung menyambut juga dengan sukacita,” kata Nataniel. 

Ia menambahkan, hubungan antara GKJW dan NU memiliki akar sejarah yang panjang. Kedua organisasi lahir di wilayah yang sama dan dalam rentang waktu yang tidak jauh berbeda.

“Nahdlatul Ulama 1926, nah GKJW ini 1931 dari Mojowarno, Jombang. Sama-sama Jombang dan secara tahunnya tidak berbeda jauh,” ujarnya.

Selain itu, Natal juga mengingatkan adanya jejak sejarah penting di Kantor Majelis Agung GKJW. Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pernah mengajar di tempat tersebut selama tujuh tahun.

“KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu pernah mengajar di tempat ini dari 1974 sampai 1981, tentang Teologi Islam atau juga Islamologi, mengajar para pendeta di tempat ini,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Natal, transit jemaah NU ini juga menjadi momentum napak tilas persaudaraan yang telah dirintis para pendahulu. “Sehingga bahasa kami, peristiwa ini juga menjadi sebuah napak tilas supaya generasi pada saat ini bisa meneruskan, melestarikan persaudaraan ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, GKJW menyiapkan berbagai fasilitas bagi jemaah NU yang transit, mulai dari ruangan istirahat terpisah untuk kiai sepuh dan perempuan, kamar mandi, hingga tempat khusus untuk beribadah.

“Termasuk tempat untuk salat itu juga kami sediakan untuk itu, tentunya supaya ya semuanya tidak merasa terganggu untuk ibadahnya dan juga rasa nyamanlah semampu kami,” pungkas Nataniel. 

Tak hanya itu, mengingat Malang dikenal berhawa dingin, GKJW juga menyediakan minuman hangat dan makanan ringan bagi para jemaah. Langkah sederhana itu menjadi simbol kehangatan persaudaraan lintas iman yang terus terjaga di Jawa Timur.


Topik

Peristiwa harlah 1 abad nu malang gkjw transit



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Probolinggo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Nurlayla Ratri