JATIMTIMES - Di momentum sebagian Umat Islam merayakan Idulfitri 1447 Hijriah/tahun 2026, ratusan Umat Hindu yang berasal dari berbagai wilayah di Malang Raya menjalani persembahyangan Ngembak Geni di komplek Candi Badut, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Persembahyangan Ngembak Geni sendiri menjadi penutup momen sakral dalam serangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang dijalani oleh seluruh Umat Hindu, tidak terkecuali di Malang Raya.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Ketua Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang I Made Warthana bersyukur atas partisipasi Umat Hindu dari berbagai wilayah di Malang Raya dalam rangka mengikuti persembahyangan Ngembak Geni.
Menurut ia, kehadiran ratusan Umat Hindu yang hadir mengenakan busana adat serba putih di komplek Candi Badut ini menunjukkan kuatnya sradha atau keyakinan spiritual Umat Hindu di tengah keberagaman kepercayaan masyarakat Indonesia.
"Kami bersyukur karena umat Hindu se Malang Raya bisa hadir dan mengikuti Sembahyang Ngembak Geni. Ini menunjukkan betapa tingginya tingkat sradha," ungkap Made, Jumat (20/3/2026).
Made mengatakan, Candi Badut tidak sekadar menjadi ruang ibadah bagi Umat Hindu, tetapi Candi Badut memiliki nilai historis yang kuat. Pasalnya, Candi Badut diyakini merupakan candi Hindu tertua di Provinsi Jawa Timur yang dibangun pada tahun 760 masehi oleh Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan.
"Kami sepakat bahwa setiap akhir rangkaian Nyepi, kita akan selalu hadir di tempat suci ini. Karena ini adalah peninggalan suci agama Hindu yang harus kita jaga bersama," kata Made.
Pihaknya menjelaskan, persembahyangan Ngembak Geni dilaksanakan setelah Umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Ia menyebut, dalam tradisi ini, Umat Hindu menahan diri dari aktivitas menyalakan api, bekerja, bepergian, hingga hiburan. Berbagai hal itu dilakukan sebagai bentuk refleksi diri dan penyucian batin.
Made menuturkan, ketika sudah selesai melaksanakan persembahyangan Ngembak Geni, para Umat Hindu sudah diperbolehkan menyalakan api atau beraktivitas seperti biasa. Menurutnya, makna api di sini tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga simbol yang menandai bangkitnya kembali semangat kehidupan yang dilandasi nilai-nilai spiritual.
"Secara harfiah kita sudah boleh menyalakan api kembali. Artinya, kita juga menyalakan api persaudaraan, cinta kasih dan dharma. Kita bisa beraktivitas seperti sedia kala, tetapi dengan nilai spiritual yang meningkat," tutur Made.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa persembahyangan Ngembak Geni di tahun 2026 masehi ini menjadi istimewa. Hal itu dikarenakan di hari yang sama, sebagian Umat Islam tengah merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Menurutnya, momentum ini merupakam refleksi nyata tentang harmoni keberagaman di Indonesia.
"Ajaran Hindu mengenal konsep universal Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna bahwa seluruh makhluk hidup adalah satu keluarga. Nilai ini, menjadi landasan penting dalam membangun sikap toleransi antarumat beragama. Pada dasarnya kita semua adalah satu keluarga. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi," jelas Made.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian PHDI Kabupaten Malang Istianah berharap, kebersamaan antara Umat Hindu yang ada di Malang Raya ini dapat terus terjalin dan semakin kuat ke depannya.
Istianah juga mendorong agar pelaksanaan Persembahyangan Ngembak Geni dapat terus menjadi momentum mempererat persatuan. Ia menegaskan, persatuan tidak hanya di kalangan Umat Hindu, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas di Malang Raya.
"Ke depan, mari kita tingkatkan kebersamaan untuk melaksanakan persembahyangan Ngembak Geni antara Kabupaten dan Kota Malang," pungkas Istianah.
