Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Marak Diburu, Ini Alasan Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Menurut Pakar

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

26 - Apr - 2026, 20:22

Placeholder
Dosen Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP dan ilustrasi Ikan Sapu-Sapu (ist)

JATIMTIMES - Ancaman terhadap ekosistem perairan darat tidak selalu terlihat di permukaan, namun dampaknya bisa sangat merusak. Di balik aliran sungai yang tampak tenang, keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) justru menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan keseimbangan hayati. Spesies invasif ini kini tidak hanya dianggap mengganggu, tetapi juga berbahaya, hingga memicu gelombang perburuan di berbagai daerah yang ramai diberitakan dan viral di media sosial.

Pakar dan Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., menjelaskan bahwa bahaya ikan sapu-sapu berakar dari kemampuannya merusak ekosistem secara sistematis. Ia menyebut, salah satu dampak utama adalah perebutan sumber pakan yang tidak seimbang. “Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkapnya.

Baca Juga : Jember Masuk Ancaman Megatrust, BPBD Sebut 7 Kecamatan Rentan Bencana

Tak berhenti di situ, ikan ini berkembang biak dengan sangat cepat hingga mendominasi biomassa perairan. Dalam kondisi tertentu, populasinya mampu menguasai ruang hidup ikan lain, seperti yang terjadi di sejumlah sungai besar, termasuk di wilayah Jakarta. Dominasi ini membuat ikan lokal semakin tersingkir dan kesulitan bertahan.

Kerusakan juga terjadi secara fisik pada lingkungan. Kebiasaan ikan sapu-sapu menggali lubang di tepian sungai mempercepat erosi dan merusak habitat pemijahan alami. Akibatnya, proses reproduksi ikan lokal terganggu, bahkan gagal berlangsung. Situasi ini semakin diperparah oleh sifat ikan sapu-sapu yang omnivora oportunistik.

Ketika pakan utama berkurang, ikan ini tidak segan memangsa telur dan larva ikan lain. Aktivitasnya yang terus menyapu dasar perairan juga menyebabkan telur-telur ikan tertimbun sedimen dan gagal menetas. Dampaknya, ikan endemik seperti nilem, tawes, wader, dan betok kini berada dalam tekanan serius dan terancam punah secara lokal.

Kemampuan bertahan hidup ikan sapu-sapu menjadi alasan lain mengapa spesies ini sulit dikendalikan. Tubuhnya dilapisi pelat keras dan dilengkapi sirip berduri tajam, sehingga jarang dimangsa predator alami seperti biawak. Selain itu, ikan ini mampu hidup di perairan dengan kadar oksigen rendah, menjadikannya sangat adaptif bahkan di lingkungan yang sudah tercemar.

Kondisi inilah yang mendorong banyak daerah melakukan perburuan massal terhadap ikan sapu-sapu. Aksi penangkapan tersebut kini marak dilakukan dan banyak beredar di media sosial maupun pemberitaan, sebagai upaya menekan populasi yang terus meningkat. Perburuan tidak lagi sekadar aktivitas sporadis, tetapi mulai dipandang sebagai langkah darurat untuk menyelamatkan ekosistem perairan.

Baca Juga : Forum Komite MTsN 2 Kota Malang Bersama Wali Murid Baru Jadi Ruang Baca Arah Pendidikan

Merespons situasi tersebut, Laboratorium Perikanan UMM juga mengambil langkah strategis melalui riset dan pemijahan ikan lokal, khususnya wader, untuk kemudian dilepasliarkan kembali. “Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegas Fery.

Meski perburuan mulai masif dilakukan, Fery mengingatkan bahwa upaya ini harus diiringi strategi jangka panjang. Ia mendorong pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak dikonsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar logam berat.

Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat. Kebiasaan melepas ikan peliharaan ke alam liar dinilai menjadi salah satu penyebab utama penyebaran spesies invasif ini. “Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan ikan sapu spau bahayaikan sapu sapu rindya fery indrawan pakar hewan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Probolinggo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan