Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Alarm Jurnalisme Era AI: Dari Ketergantungan Pers Mahasiswa Hingga Jebakan Halusinasi di Media Arus Utama

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Nurlayla Ratri

26 - Jun - 2026, 14:49

Placeholder
Ilustrasi. Aktivitas peliputan berita dari sejumlah awak pers mahasiswa saat demonstrasi di Malang beberapa waktu lalu.(Foto: Byllal Fajar/LPM Kavling 10)

JATIMTIMES – Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) generatif kini mulai merambah ke berbagai sektor kerja jurnalisme, tidak terkecuali di lingkungan Pers Mahasiswa (Persma). Teknologi ini dinilai menjadi pisau bermata dua yang bisa membantu sekaligus memicu ketergantungan akut bagi jurnalis muda.

Salah satu Pegiat Pers Mahasiswa di Malang, Jawa Timur, Delta Nishfu membeberkan bahwa AI generatif seperti ChatGPT memang kerap digunakan oleh sebagian pengurus redaksi mahasiswa. Salah satu pemanfaatan yang paling sering ditemui adalah untuk konsultasi pembuatan garis besar (outline) liputan.

Baca Juga : Wisuda Periode 79 Unisma: Mutu Akademik dan Jejaring Global Menguat, Kelulusan Tepat Waktu Meningkat

"Sebenarnya AI ini semacam kadang membantu, tapi juga kadang membuat ketergantungan," kata Delta Nishfu saat diwawancarai, Kamis (25/6/2026).

Delta menceritakan pengalamannya terdahulu yang sempat memanfaatkan AI untuk membantu menyusun rancangan liputan. Hal itu ia lakukan sebagai alternatif ruang diskusi di tengah kendala komunikasi internal organisasi yang sempat kurang sehat.

Meski begitu, Delta menepis anggapan bahwa AI generatif terbukti paling ampuh dalam memotong waktu produksi berita. Terlebih, untuk jenis produk jurnalistik yang membutuhkan investigasi mendalam (indepth reporting).

Menurutnya, dinamika nyata di lapangan tidak akan pernah bisa diprediksi maupun digantikan oleh algoritma komputer. AI dinilai hanya mampu memberikan stimulus awal berupa contoh referensi yang tetap harus dikembangkan secara manual.

"Memotong waktu atau tidaknya, bagiku tetap dinamika lapangan tidak bisa kita duga," jelas dia.

Ketergantungan yang tidak sehat justru mulai muncul saat penggunaan AI masuk ke arah yang kontra-kreatif. Efek instan dan kemudahan yang ditawarkan dinilai rawan membuat jurnalis mahasiswa malas membaca.

Lebih bahayanya lagi, sambungnya, teknologi ini berpotensi membuat jurnalis muda enggan melakukan wawancara langsung ke sumber utama dan memilih jalan pintas. Dampak buruk ini bahkan sempat memicu ruang redaksi mahasiswa menghasilkan produk berita yang keliru.

Delta mengungkapkan, sempat ditemukan kasus konkret pada tahun 2024 saat sejumlah media persma di Malang meliput aksi Pak Midun di Kanjuruhan. Terdapat salah satu lembaga persma yang tidak hadir di lokasi, namun tiba-tiba menerbitkan berita.

Hasilnya, produk berita yang dirilis mengandung banyak informasi yang menyesatkan (misleading) dan berputar balik dari fakta aslinya. "Setelah ditelusuri, penulis terbukti tidak turun ke lapangan dan editor langsung mengunggah berita tanpa proses cek dan ricek,"tuturnya.

Kemudahan instan dari AI ini juga dikhawatirkan dapat mereduksi daya kritis mahasiswa dalam berdialektika. Menurut Delta, ada ketakutan jika jurnalis mahasiswa nantinya justru lebih intens berdiskusi dengan AI daripada bertukar pikiran dengan rekan sejawatnya.

Menyikapi risiko tersebut, Delta menegaskan bahwa benteng pertahanan utama persma adalah tetap berpegang teguh pada disiplin verifikasi. Segala bentuk data dan dokumen yang diperoleh dari AI wajib dikonfirmasi ulang kebenarannya secara faktual.

Baca Juga : Badan PBB Hentikan Aktivitas di Selat Hormuz, Serangan Kapal Picu Kekhawatiran Baru

Hingga saat ini, sebagian besar organisasi persma di Malang memang belum memiliki regulasi atau aturan tertulis khusus mengenai batasan penggunaan AI. Oleh sebab itu, kesadaran mandiri dari tiap individu jurnalis mahasiswa sangat diperlukan.

Delta berpesan agar kawan-kawan persma bisa membalikkan ancaman teknologi ini menjadi sebuah alat bantu yang cerdas tanpa harus menggadaikan independensi.

"AI digunakan bukan untuk membuat berita, melainkan hanya sebagai alat bantu proses kerja," pungkas Delta.

Kekhawatiran yang dialami oleh akar rumput persma di Malang ini ternyata linier dengan kondisi riil di industri media arus utama saat ini. Praktisi Media nasional, Merdi Sofyansyah, membenarkan bahwa di ruang redaksi komersial, industri pers hari ini juga sedang bertarung melawan dua sisi mata pisau AI tersebut, yakni antara efisiensi teknis yang berisiko memicu sengketa hak cipta, serta ancaman halusinasi informasi.  

Dalam analisisnya terkait efisiensi teknis, Merdi melihat ada kecenderungan ruang redaksi profesional terjebak pada pola yang sama, yaitu mengandalkan AI sebagai jalan pintas produksi. Padahal, algoritma komputer bekerja dengan cara menyerap jutaan karya di internet secara acak yang berpotensi memicu sengketa Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) jika ditelan mentah-mentah.  

"Secara teknis AI memang asisten sparring analisis yang luar biasa, tetapi sengketa HAKI bisa menjadi bom waktu jika redaksi asal comot materi tanpa pengecekan lisensi," ungkap Merdi Sofyansyah terpisah, saat menyampaikan materi kelas JFC Batch III GWPP, belum lama ini.

Lebih lanjut, Merdi juga menggarisbawahi bahwa adanya AI Hallucination Trap yang berpotensi terjadi ketika jurnalis berhenti melakukan verifikasi manual dan absen dari lokasi kejadian, AI dengan mudah merangkai data palsu atau referensi karangan yang terlihat sangat meyakinkan namun berputar balik dari fakta asli di lapangan.  

"Maka kebenaran objektif tetap butuh hukum besi verifikasi manusia," tegasnya.


Topik

Peristiwa ai hallucination ai jebakan halusinasi ai penggunaan ai di media



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Probolinggo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Nurlayla Ratri

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa