Ketika Rasa Kurang Menguasai Hati: Belajar Bahagia dengan Qana’ah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
16 - Mar - 2026, 09:26
JATIMTIMES - Banyak orang merasa hidupnya belum lengkap. Harta terasa kurang, pencapaian dianggap belum cukup, dan kebahagiaan selalu tampak berada di tempat orang lain. Padahal, dalam pandangan Islam, kegelisahan semacam itu sering muncul karena hilangnya rasa qana’ah atau kemampuan untuk merasa cukup atas nikmat yang telah diberikan Allah.
Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, manusia mudah terjebak pada keinginan tanpa batas. Standar kebahagiaan sering diukur dari apa yang dimiliki orang lain. Akibatnya, seseorang terus mengejar lebih banyak hal tanpa sempat menikmati apa yang sudah ada di tangannya.
Baca Juga : Ramalan Zodiak 20 Maret 2026: Aries Penuh Keberanian, Taurus Diminta Fokus Prioritas
Islam mengajarkan bahwa ketenangan tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang mampu bersyukur. Sikap qana’ah membuat seseorang tetap berusaha, namun tidak menjadikan dunia sebagai pusat kebahagiaan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa syukur memiliki hubungan langsung dengan bertambahnya nikmat. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
"Wa idz ta’adzana rabbukum la’in syakartum la’aziidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid." Artinya, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Namun jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap batin yang membuat manusia mampu menerima pemberian Tuhan dengan lapang dada. Ketika hati dipenuhi rasa cukup, seseorang akan lebih mudah merasakan kedamaian.
Rasulullah SAW juga memberikan pesan penting kepada para sahabat agar selalu menjaga rasa syukur dalam setiap kesempatan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, Nabi pernah memegang tangan sahabat Mu’adz bin Jabal RA dan berkata bahwa beliau mencintainya. Setelah itu Rasulullah berpesan agar Mu’adz tidak meninggalkan doa setelah salat:
"Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika." Artinya, “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
Doa tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur perlu dijaga dan dilatih setiap hari. Tanpa pertolongan Allah, manusia mudah terjebak dalam rasa tidak puas terhadap kehidupan.
Nabi Muhammad SAW juga memberikan teladan tentang bagaimana mensyukuri karunia Allah. Dalam riwayat dari Sa’ad bin Abi Waqash RA, Rasulullah pernah menceritakan bahwa beliau memohon syafaat untuk umatnya kepada Allah. Setiap kali permohonannya dikabulkan, Nabi langsung bersujud sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Sikap tersebut menggambarkan bahwa syukur adalah reaksi spontan dari hati yang sadar bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Bahkan karunia sekecil apa pun patut disambut dengan rasa terima kasih.
Namun dalam kenyataannya, manusia sering terjebak dalam pola pikir yang membuat kebahagiaan terasa jauh. Banyak orang menetapkan syarat tertentu untuk bisa merasa bahagia. Mereka baru merasa senang jika memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.
Baca Juga : 10 Tradisi Unik Menyambut Lebaran Idulfitri di Indonesia, dari Meugang hingga Meriam Karbit
Ketika syarat itu tidak terpenuhi, muncullah kekecewaan. Perasaan iri, gelisah, hingga kemarahan perlahan tumbuh dalam hati. Padahal, apa yang dikejar belum tentu benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan.
Rasa tidak puas inilah yang membuat manusia kehilangan kebahagiaan sederhana. Fokus hidup menjadi hanya pada apa yang belum dimiliki, bukan pada nikmat yang sudah ada.
Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan bahwa banyak manusia sebenarnya hidup dalam kelimpahan nikmat, tetapi tidak menyadarinya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 243:
"Innallāha lażū faḍlin ‘alan-nāsi walākinna akṡaran-nāsi lā yasykurūn."
Artinya, “Sesungguhnya Allah memiliki karunia besar kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
Karena itu, qana’ah menjadi salah satu kunci kebahagiaan yang sering dilupakan. Dengan sikap ini, seseorang tidak lagi mengukur hidupnya dari perbandingan dengan orang lain. Ia belajar bahagia dengan menghargai apa yang dimiliki dan menjadikannya sebagai anugerah terbaik dari Tuhan.
Ketika hati sudah mampu merasa cukup, kebahagiaan tidak lagi bergantung pada banyaknya harta atau tingginya kedudukan. Ia lahir dari kesadaran bahwa setiap bagian hidup yang dimiliki saat ini adalah pemberian yang paling tepat dari Allah SWT.
