JATIMTIMES - Nabi Muhammad Shallahu'alaihi Wasallam (SAW) merupakan sosok manusia terpuji yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam yang ada di muka bumi ini. Berbagai kisahnya membuat umat Islam menjadikan Nabi Muhammad sebagai tokoh idola sepanjang masa.
Sebagai umat Islam yang taat dan bertakwa, penting kiranya untuk mengetahui serta memahami biografi dan tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan bagi seluruh umat Islam yang ada di dunia.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Nabi Muhammad lahir di Makkah Al-Mukarramah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah yang bertepatan dengan 20 April 571 Masehi di rumah Abu Thalib pada waktu Shubuh yang dibantu oleh seorang bidan bernama Syifa binti Auf atau Ummu Abdul Rahman.
Ia merupakan anak dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hashim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah dengan Aminah binti Wahab bin Abdul Wahab bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.
Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Pasalnya, sebelum ia lahir ke dunia, sang ayah telah meninggal dunia. Saat lahir, Rasulullah disusui oleh ibundanya selama tiga hari dan dijaga oleh Ummu Aiman. Kemudian Rasulullaah juga disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyyah dan Halimah As-Sa'diyyah dari Bani Sa'ad. Lalu setelah berusia lima tahun, Nabi Muhammad dikembalikan kepada pangkuan sang ibunda.
Terdapat beberapa saudara persusuan Rasulullaah, di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Salamah, Asy-Syaima binti Al-Harits, Abdullah bin Al-Harits dan Unaisah binti Al-Harits.
Pada sekitar usia empat sampai lima tahun, dada Muhammad dibedah oleh Malaikat Jibril dan dibasuh dengan kesucian. Kemudian di usianya yang menginjak enam tahun, sang ibunda yakni Aminah meninggal dunia di Kampung Abwa sepulang dari Yatsrib (nama lama Kota Madinah). Kemudian Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya yakni Abdul Muthalib.
Menginjak usia delapan tahun, sang kakek yakni Abdul Muthalib meninggal dunia. Akhirnya Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya yakni Abu Thalib. Dari sinilah Nabi Muhammad mulai belajar berdagang. Di usia sembilan tahun, Nabi Muhammad bertemu Pendeta Bukhaira yang membaca tanda-tanda kenabian Muhammad kecil.
Saat diasuh oleh Abu Thalib, Nabi Muhammad mulai belajar berdagang, bermain serta menggembala. Alhasil saat masih kecil Nabi Muhammad hobi menggembala hewan ternak dan menginjak usia remaja Nabi Muhammad terus mengasah kemampuan berdagangnya. Ia juga mendapatkan gelar Al-Amin dari penduduk Makkah, yang memiliki arti orang yang dapat dipercaya.
Seiring berjalannya waktu, Nabi Muhammad yang telah berusia 25 tahun kemudian menikah dengan Khadijah binti Khuwalid setelah kepulangannya dari berdagang di Syam. Kemudian di usianya yang ke-35 tahun, Nabi Muhammad mendamaikan suku-suku Quraisy dalam perebutan peletakan dan penempatan hajar aswad.
Dilansir dari nu.or.id , di usianya yang ke-40 tahun, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertamanya di Gua Hira pada Senin, 17 Ramadan di tahun 610 Masehi.
Dari Aisyah Ummul Mukminin radliyallahu ‘anha, ia berkata: "Permulaan wahyu yang diterima oleh Rasulullah adalah ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang baik) dalam tidur. Biasanya mimpi yang dilihatnya itu jelas laksana cuaca pagi. Kemudian beliau jadi senang menyendiri; lalu menyendiri di Gua Hira untuk bertahannuts. Beliau bertahannuts, yaitu beribadah di sana beberapa malam, dan tidak pulang ke rumah isterinya. Dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah, dan di bawahnya pula perbekalan untuk keperluan itu, sehingga datang kepada beliau Al-Haqq (kebenaran, wahyu) pada waktu beliau berada di gua Hira. Maka datanglah kepada beliau malaikat dan berkata, "Bacalah!" Jawab beliau, "Aku tidak bisa membaca." Nabi bercerita, "Lalu malaikat itu menarikku dan memelukku erat-erat sehingga aku kepayahan.
Kemudian ia melepaskanku dan berkata lagi, "Bacalah!" dan aku menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Aku lalu ditarik dan dipeluknya kembali kuat-kuat hingga habislah tenagaku. Seraya melepaskanku, ia berkata lagi, "Bacalah!" Aku kembali menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Kemudian untuk ketiga kalinya ia menarik dan memelukku sekuat-kuatnya, lalu seraya melepaskanku ia berkata,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan; (2) Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (pena); (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-'Alaq 96:1-5)
Usai menerima wahyu pertamanya, Nabi Muhammad mulai melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi di Makkah Al-Mukarramah. Setelah itu, di usianya yang menginjak ke-43 tahun, Nabi Muhammad mulai mensyiarkan Islam secara terang-terangan ke seluruh penduduk Makkah.
Di usianya yang ke-50 tahun, merupakan salah satu momen sedih yang dirasakan oleh Nabi Muhammad. Pasalnya, di usia tersebut, pamannya yang merawat ia sejak kecil hingga dewasa yakni Abu Thalib meninggal dunia yang kemudian disusul oleh Khadijah binti Khuwalid yang juga meninggal dunia.
Lalu di usianya yang ke-52 tahun, Nabi Muhammad melaksanakan Isra' Mikraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang kemudian diangkat ke Sidratul Muntaha menunggangi Buraq. Perihal peristiwa Isra' Mikraj ini juga telah disebutkan dalam QS. Al-Isra' ayat 1.
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Baca Juga : Bolehkah Puasa Qadha Ramadan Sebelum Hari Raya Ketupat? Ini Penjelasan Hukumnya
Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isra' 111:1).
Usai menjalani Isra' Mikraj, Nabi Muhammad mendapatkan tiga hal yang kemudian disyiarkan kepada umat Islam. Yakni perintah kewajiban menunaikan Salat lima waktu, penutup QS. Al-Baqarah dan ampunan atas dosa besar bagi umat yang tidak menyekutukan Allah Subhanahuwata'ala. Di mana beberapa hal tersebut tersirat dalam QS. An-Najm (62:1-18).
Kemudian pada saat Nabi Muhammad berusia ke-53 tahun yang bertepatan dengan 1 Hijriah, terdapat peristiwa Bai'atul Aqabah. Di mana sebanyak 73 laki-laki dan dua perempuan dari Suku Aus dan Khazraj berbai'at kepada Nabi Muhammad. Lalu Nabi Muhammad hijrah ke Yatsrib (nama lama Kota Madinah) dan memulai dakwah di Yatsrib. Selanjutnya di hari Senin, 12 Rabiul Awal, Nabi Muhammad membangun Masjid Quba dan Masjid Nabawi.
Lalu di usianya yang ke-54 tahun, Nabi Muhammad mendapatkan izin untuk jihad berperang yang dikenal sebagai Perang Badar Kubra pada hari Jumat, 17 Ramadan 2 Hijriah. Di mana pada saat perang tersebut, diwajibkan Puasa Ramadan dan menunaikan zakat.
Pada saat Perang Badar Kubra itu, Nabi Muhammad membawa 313 pasukan dengan tunggangan 70 ekor unta dan dua hingga tiga ekor kuda. Jumlah itu tidak sepadan jika dibandingkan dengan jumlah pasukan Kaum Kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan dengan 1.000 lebih pasukan. Sebanyak 600 di antaranya mengenakan baju besi, 100 pasukan menunggangi kuda dan juga terdapat kekuatan armada 700 ekor unta.
Dalam peristiwa Perang Badar Kubra ini dimenangkan oleh Nabi Muhammad bersama pasukannya. Setidaknya terdapa 70 pimpinan Quraisy meninggal dunia, 70 lainnya ditawan dan 14 sahabat Nabi Muhammad yang gugur di medan perang sebagai syuhada.
Di usia 58 tahun yang bertepatan pada 6 Hijriah, Nabi Muhammad mendapatkan perintah untuk menunaikan ibadah haji. Dalam peristiwa itu juga terjadi Perjanjian Hudaibiyah dan Bai'atur Ridhwan dengan orang-orang Kafir Quraisy.
Perintah untuk menunaikan ibadah haji ini tertulis di dalam Al-Qur'an. Salah satunya di dalam QS. Ali-Imran (3:97) yang berbunyi:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
"Dan (diwajibkan) bagi Allah atas manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa kafir (ingkar), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam."
Kemudian di usianya yang ke-60 tahun terjadi peristiwa Fathu Makkah pada Bulan Ramadan. Peristiwa ini merupakan pembersihan Ka'bah dari berhala-berhala di hari kasih sayang atau Yaumul Marhamah. Selanjutnya di usia ke-62 tahun, Nabi Muhammad melaksanakan Haji Wada atau perpisahan bersama para istri dan sahabatnya.
Lalu memasuki usia ke-63 tahun merupakan momen tersedih bagi seluruh umat Islam di dunia. Di usia ke-63 tahun Nabi Muhammad meninggal dunia pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 11 Hijriah yang bertepatan pada tanggal 8 Juni 632 Masehi di Madinah Al-Munawwarah. Nabi Muhammad meninggal dunia setelah sakit selama 14 hari. Kemudian Nabi Muhammad dimakamkan di kamarnya yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi.
Dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyah karya Imam At-Tirmidzi diriwayatkan bahwa sebelum meninggal dunia, Siti Aisyah Ra menyandarkan Nabi Muhammad di pangkuannya.
Humaid bin Mas'adah al-Bashri meriwayatkan kepada kami dari Sulaim bin Akhdhar, dari Ibnu Aun, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, dari Siti Aisyah Ra yang berkata, "Aku sedang menyandarkan Nabi SAW di dadaku—atau: di pangkuanku—ketika beliau meminta bejana untuk buang air kecil. Kemudian beliau buang ari kecil. Setelah itu, beliau wafat."
