Kesederhanaan Ali bin Abi Thalib saat Lebaran, Makan Roti Keras namun Penuh Makna Ibadah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
20 - Mar - 2026, 12:33
JATIMTIMES - Idul Fitri sering dipahami sebagai momen kegembiraan dengan berbagai hidangan istimewa. Namun bagi para sahabat Rasulullah, makna hari raya tidak selalu identik dengan kemewahan.
Salah satu teladan datang dari sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA, yang menunjukkan bahwa hakikat Lebaran justru terletak pada ketakwaan dan kedekatan kepada Allah.
Baca Juga : THR Anak Cepat Habis? Ini Cara Mengatur Angpau Lebaran Anak Menurut Psikolog dan Perencana Keuangan
Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Ia lahir di Makkah dari keluarga Bani Hasyim, garis keturunan terpandang di kalangan Quraisy. Ayahnya adalah Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Sementara ibunya bernama Fatimah binti Asad.
Sejak kecil Ali berada dekat dengan Rasulullah. Nabi Muhammad SAW bahkan turut membesarkan dan mendidiknya. Kedekatan itu membentuk karakter Ali menjadi sosok yang pemberani, cerdas, serta memiliki ketakwaan yang kuat.
Ali juga dikenal sebagai salah satu orang pertama yang memeluk Islam. Ia menerima dakwah Nabi saat masih sangat muda. Keimanan itu kemudian membentuk kehidupan Ali yang penuh kesederhanaan meski kelak ia menjadi pemimpin besar umat Islam.
Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa kehidupan Ali jauh dari kemewahan. Makanan sehari-harinya sangat sederhana. Terkadang ia hanya menyantap roti kering dengan sedikit cuka atau minyak sebagai lauk.
Salah satu kisah yang sering diceritakan terjadi pada hari Idul Fitri. Saat itu seorang tamu datang berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib. Ia mendapati Ali sedang memakan roti yang keras dan sederhana.
Melihat hal tersebut, tamu itu merasa heran. Baginya, hari raya biasanya identik dengan makanan yang lezat dan istimewa. Ia pun bertanya kepada Ali mengapa pada hari Lebaran justru makan roti keras.
Ali kemudian memberikan jawaban yang sangat dalam maknanya. Ia menjelaskan bahwa hari raya sejatinya bukan sekadar perayaan dengan makanan atau kemewahan. Lebaran adalah milik orang yang puasanya diterima oleh Allah, yang amalnya disyukuri, dan dosa-dosanya diampuni.
Menurut Ali, setiap hari sebenarnya bisa menjadi hari raya bagi seorang hamba jika ia mampu menjaga diri dari maksiat. Selama seseorang tidak melakukan dosa pada hari itu, maka hari tersebut dapat dianggap sebagai Id atau hari kemenangan.
Jawaban itu membuat tamunya kembali bertanya bagaimana mungkin seseorang bisa merasakan Lebaran setiap hari.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Ali menjawab bahwa kunci utamanya adalah menjaga diri dari perbuatan dosa dan selalu taat kepada Allah. Jika seorang hamba mampu melewati hari tanpa maksiat, maka sesungguhnya ia sedang merayakan kemenangan atas dirinya sendiri.
Makna tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur'an tentang tujuan ibadah puasa. "Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumush-shiyamu kama kutiba 'alalladzina min qablikum la'allakum tattaqun."
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).
Kisah ini juga selaras dengan sabda Rasulullah SAW tentang makna hari raya bagi orang beriman. "Laisa al-'idu liman labisal jadid, innamal 'idu liman tha'atuhu tazid."
Artinya, “Hari raya bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya semakin bertambah.”
Dari kisah Ali bin Abi Thalib tersebut terlihat bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak diukur dari kemewahan dunia, tetapi dari keberhasilan menjaga iman dan amal.
Kesederhanaan yang ditunjukkan Ali justru menjadi pelajaran besar bagi umat Islam. Lebaran bukan hanya tentang hidangan, pakaian baru, atau perayaan meriah, melainkan tentang kemenangan spiritual setelah menahan diri selama Ramadan.
