JATIMTIMES - Di tengah polemik yayasan yang belum sepenuhnya usai, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menegaskan satu garis besar sikap: akademik tidak boleh terganggu.
Rektor Unikama, Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., memastikan seluruh proses pendidikan, pelayanan mahasiswa, hingga pengembangan kampus tetap berjalan normal dan kondusif.
Penegasan itu disampaikan melalui pernyataan sikap civitas akademika Unikama, Selasa, (3/2/2026) yang secara terbuka menempatkan kepentingan mahasiswa dan mutu akademik sebagai prioritas utama, sekaligus menutup ruang spekulasi terkait isu dualisme kepemimpinan.
“Kami sejak awal sudah menyampaikan bahwa mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan tidak ingin kami libatkan dalam persoalan yayasan. Yang terpenting, akademik harus berjalan dengan baik. Dan sampai hari ini, akademik berjalan dengan baik,” ujar Sudi Dul Aji.
Dalam pernyataan sikap tersebut, civitas akademika Unikama menyatakan ketaatan penuh kepada PPLP-PT PGRI Malang yang sah, di bawah kepemimpinan Drs. Agus Priyono, M.M., sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Kemenkumham Nomor AHU-001673.AH.01.08 Tahun 2025 tertanggal 19 September 2025, yang diperkuat kembali melalui surat Direktorat Badan Usaha Kedinasan Hukum RI pada 23 Desember 2025.
Sikap ini sekaligus diiringi penolakan tegas terhadap segala bentuk tindakan, keputusan, maupun pengelolaan kampus yang dilakukan pihak-pihak tanpa legalitas dan kewenangan yang sah.
“Kami mengikuti sepenuhnya jalur hukum dan keputusan Kemenkumham. Secara normatif dan hukum, posisi kami jelas di sana,” tegas Sudi.
Rektor Unikama menegaskan bahwa pernyataan sikap ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk perlindungan terhadap iklim akademik kampus. Ia memastikan mahasiswa tidak perlu khawatir dan seluruh sivitas akademika diminta tetap bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya.
“Dengan pernyataan sikap ini, kami ingin menegaskan kembali bahwa mahasiswa tidak perlu khawatir. Dosen dan tenaga kependidikan juga tetap bekerja sesuai tupoksinya. Kampus ini harus tetap hidup,” katanya.
Saat ini, Unikama juga tengah memasuki fase penting penerimaan mahasiswa baru. Menurut Sudi, menjaga stabilitas kampus menjadi kunci untuk membangun citra positif di tengah persaingan pendidikan tinggi.
“Kami sedang penerimaan mahasiswa baru dan sedang membangun citra positif. Kalau konflik terus muncul, seolah-olah kampus tidak mampu mengendalikan diri. Itu yang ingin kami hindari,” ujarnya.
Lebih lanjut Rektor menegaskan, bahwa penyelesaian persoalan yayasan seharusnya dilakukan di luar ruang akademik, termasuk melalui jalur pengadilan jika diperlukan. Kampus, kata dia, harus tetap menjadi ruang belajar, bukan arena konflik.
“Persoalan yayasan, monggo diselesaikan di luar. Di kampus, yang kami selesaikan adalah persoalan akademik,” ucapnya.
Di saat yang sama, Unikama terus berupaya memperkuat kualitas institusi melalui pengajuan berbagai hibah kementerian dan usulan afirmasi untuk sejumlah program studi.
Baca Juga : Lailah Qiro’atil Kutub Jadi Uji Nalar Santri Non-Takhosus di Mahad Darul Hikmah
“Kami juga sedang berupaya meraih hibah-hibah di kementerian dan mengusulkan afirmasi penerimaan untuk beberapa program studi. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan,” imbuh Sudi.
Melalui pernyataan sikapnya, civitas akademika Unikama juga menyatakan komitmen menegakkan disiplin, integritas, dan profesionalisme, serta menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memecah persatuan kampus.
“Kami bertekad menjaga kondusivitas dan persatuan kampus demi keberlangsungan pendidikan tinggi yang bermartabat dan terpercaya,” katanya.
Sementara itu, dari pihak PPLP PT PGRI, Dr Nawaji M.Pd, menegaskan bahwa arah pengelolaan Unikama tetap menuju universitas unggul dan multikultural, dengan mahasiswa sebagai pusat perhatian utama.
“Kami mengedepankan kepentingan mahasiswa. Bagaimana sarana prasarana dilengkapi, proses pembelajaran berjalan nyaman, dan semua kebutuhan mahasiswa terpenuhi,” kata Nawaji.
Ia menyebut pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap agar sivitas akademika dapat menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi tanpa hambatan.
Salah satu fasilitas yang disorot adalah Rusunawa mahasiswa yang kini telah terisi penuh. Fasilitas tersebut dilengkapi Wi-Fi dan sarana pendukung digital, dengan biaya terjangkau per bulan. “Banyak mahasiswa merasa lebih nyaman tinggal di Rusunawa dibanding kos di luar. Semua fasilitas kami kembalikan untuk kepentingan mahasiswa,” jelasnya.
Namun Nawaji juga mengakui bahwa, dinamika konflik yayasan tetap berdampak pada laju pengembangan kampus. Untuk itu pihaknya berharap, polemik ini bisa segera selesai dan aktivitas kampus berjalan sebagaimana mestinya. “Pasti mengganggu. Yang seharusnya jalan mulus, jadi tersendat. Energi yang mestinya fokus ke pengembangan, kadang teralihkan. Kami harap segera selesai,” ujarnya.
