JATIMTIMES - Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam menjadi potret klasik tentang benturan antara tauhid dan kekuasaan simbol, sebuah cerita lama yang terus relevan hingga hari ini.
Dalam Surat As Shaffat ayat 123 sampai 132, Al Quran merekam perjuangan seorang nabi yang berdiri sendirian di tengah kaumnya yang telah berpaling dari Allah dan menundukkan keyakinan mereka pada berhala bernama Baal.
Baca Juga : Mengaku Tuhan demi Menjaga Tauhid, Kisah Sunyi Abu Yazid al-Bustami
Nabi Ilyas Alaihissalam sendiri, hidup sekitar abad ke 10 sebelum Masehi, pada rentang waktu 910 hingga 850 SM. Ia berasal dari garis keturunan para nabi Bani Israil, merupakan keturunan keempat Nabi Harun AS, dengan silsilah yang tersambung hingga Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Latar sejarah ini penting, sebab kaum yang dihadapinya bukanlah masyarakat tanpa ajaran, melainkan pewaris risalah tauhid yang telah dikenal sejak masa Nabi Musa AS.
Namun dalam perjalanan waktu, keimanan itu terkunci oleh Baal, sosok berhala yang menjadi pusat penyembahan dan simbol kekuasaan elite pada masa itu. Penyembahan kepada Baal secara perlahan menggeser ajaran tauhid, memutus hubungan spiritual Bani Israil dengan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam situasi inilah Nabi Ilyas diutus untuk mengingatkan, meluruskan, sekaligus mengguncang kesadaran kaumnya.
Al Quran menggambarkan seruan itu dengan nada yang tegas sekaligus menggugah. “Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul,” demikian pembuka kisah ini. Ia menegur kaumnya dengan pertanyaan moral yang tajam, mengapa mereka tidak bertakwa, dan mempertanyakan pilihan mereka yang menyembah Baal namun meninggalkan Allah, sebaik-baik Pencipta, Tuhan mereka dan Tuhan nenek moyang terdahulu.
Peringatan itu tidak disambut dengan penerimaan. Kaum Nabi Ilyas justru mendustakan risalah yang dibawanya. Al Quran menyebutkan konsekuensi dari sikap tersebut, bahwa mereka kelak akan dihadapkan pada azab, kecuali hamba-hamba Allah yang disucikan dan tetap menjaga iman.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Pon 4 Februari: Rezeki Datang Saat Bepergian
Di tengah penolakan itu, Allah justru mengabadikan nama Nabi Ilyas dengan pujian yang baik bagi generasi setelahnya, serta melimpahkan keselamatan kepadanya.
Penghargaan ilahi tersebut ditegaskan kembali dalam ayat yang menyatakan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan bahwa Nabi Ilyas termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman.
Pengamat tafsir Al Quran, Ahmad Zaini, menjelaskan bahwa kisah Nabi Ilyas mengajarkan keberanian moral dalam menghadapi arus besar penyimpangan.
“Nabi Ilyas berdakwah di tengah sistem yang sudah mapan secara politik dan budaya. Pesannya jelas, tauhid tidak boleh dikompromikan meski berhadapan dengan mayoritas,” ujarnya.
