JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah kurs rupiah menyentuh level Rp 17.654 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Situasi ini membuat banyak pihak kembali mengingat masa krisis ekonomi 1998, ketika rupiah pernah terpuruk hingga menyentuh Rp 17.000 per dolar AS.
Namun di tengah krisis besar itu, Presiden ke-3 RI B.J. Habibie berhasil membawa rupiah perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp 6.500 per dolar AS. Langkah-langkah yang dilakukan Habibie saat itu kini kembali viral di tengah tekanan dolar AS yang terus menguat.
Baca Juga : Terungkap, Ibu Bayi Terbungkus Kain di Jombang Masih Pelajar SMP
Sebagai ilmuwan aeronautika, Habibie memiliki pendekatan berbeda dalam melihat krisis ekonomi. Ia mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia saat itu seperti pesawat yang mengalami stall atau kehilangan daya angkat.
Dikutip dari pemberitaan Kompas.com pada 12 September 2019, Habibie menggambarkan ekonomi Indonesia kala itu seperti pesawat dengan posisi hidung mengarah ke atas, tetapi kehilangan tenaga sehingga berisiko jatuh.
Dalam teori penerbangan, kondisi tersebut harus segera diseimbangkan agar pesawat kembali stabil. Pendekatan inilah yang kemudian dipakai Habibie untuk memulihkan ekonomi nasional dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Salah satu kebijakan besar yang dilakukan Habibie adalah merestrukturisasi sektor perbankan. Pemerintah saat itu menggabungkan sejumlah bank menjadi institusi baru yang lebih kuat dari sisi pendanaan. Dari proses merger tersebut lahirlah Bank Mandiri.
Tak hanya itu. Habibie juga mengambil langkah dengan memperkuat independensi Bank Indonesia. BI dipisahkan dari intervensi pemerintah agar kebijakan moneter tidak lagi mudah dipengaruhi kekuasaan seperti pada era sebelumnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Habibie juga aktif meyakinkan investor asing agar tetap percaya terhadap Indonesia.
Salah satu momen terjadi saat dirinya menghadiri pertemuan para pemimpin Asia di London, Inggris, pada 1 April 1998. Dalam forum tersebut, Habibie berbicara langsung kepada investor Inggris mengenai peluang pemulihan ekonomi Indonesia.
"Faktanya, kita sedang keluar dari masalah ini, dan jika kita berhasil melewatinya, kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya karena kita akan belajar dari kesalahan kita sendiri dan juga dari kesalahan orang lain," kata Habibie, dikutip dari AP Archive.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh membuang waktu untuk bangkit dari krisis. "Cara terbaik untuk meyakinkan Anda bahwa Anda harus berubah adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan menyelesaikannya. Dan memang, waktu adalah uang. Jadi, kita tidak boleh membuang-buang waktu," lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Habibie memastikan pemerintah akan memulihkan kredibilitas sistem perbankan Indonesia. Menurut dia, pemulihan itu harus didukung regulasi yang kuat, termasuk undang-undang kepailitan dan pengawasan bank.
Baca Juga : Mayat Wanita Lansia Ditemukan Tersangkut di Sungai Gadungan Setelah Hilang 3 Minggu
"Saya ingin menegaskan bahwa kita sedang dalam proses melakukannya. Hal itu akan terjadi dan harus terjadi dalam waktu dekat," ujar Habibie.
Ia juga meminta investor asing tidak ragu menyampaikan persoalan yang mereka hadapi di Indonesia. Habibie menjamin pemerintah akan menyelesaikannya dalam beberapa tahun ke depan.
"Hal terpenting adalah dalam beberapa minggu atau bulan ke depan kita harus keluar dari kondisi yang Anda sebut sebagai titik terendah; kita baru saja mulai pulih," ungkapnya. "Sekarang saya pikir pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengembalikannya," jelas Habibie saat itu.
Habibie menekankan, pemulihan ekonomi harus berjalan sesuai koridor konstitusi agar tidak memicu ketidakstabilan sosial dan politik yang justru memperburuk situasi nasional.
Berbagai langkah yang diambil Habibie akhirnya mulai menunjukkan hasil. Investor asing perlahan kembali masuk ke Indonesia dan memberikan sentimen positif terhadap rupiah.
Nilai tukar rupiah yang sempat berada di level Rp 17.000 per dolar AS perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp 6.500 per dolar AS.
Perbaikan kurs rupiah juga diikuti membaiknya kondisi ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat minus 13,33 persen pada 1998 berangsur membaik menjadi 0,79 persen pada 1999.
Selain itu, angka kemiskinan mengalami penurunan dari 24,2 persen pada 1998 menjadi 23,4 persen pada 1999.
