JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (27/5/2026) pagi, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.812 per dolar AS.
Mengutip data Bloomberg, posisi rupiah pada pukul 10.18 WIB melemah 17 poin atau sekitar 0,10 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya di level Rp17.795 per dolar AS.
Baca Juga : Pisau Ibrahim dan Dunia yang Kehilangan Keikhlasan
Meski rupiah melemah cukup dalam, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini dinilai masih kuat.
“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya, dikutip detiknews, Rabu (27/5/2026).
Saat ditanya soal kemungkinan pemerintah kembali melakukan stress test terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat pelemahan rupiah, Purbaya menegaskan hal itu belum diperlukan.
Menurutnya, simulasi sebelumnya sudah memperhitungkan berbagai risiko, termasuk lonjakan harga minyak dunia hingga US$100 per barel beserta dampaknya terhadap kurs rupiah.
“Ya, saya stress. Nggak (ada stress test), kita udah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi nggak ada masalah saya nggak harus hitung ulang APBN-nya,” terang Purbaya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah disebut tetap menjaga stabilitas pasar keuangan, terutama pasar obligasi.
Purbaya menjelaskan imbal hasil atau yield obligasi Indonesia justru mengalami penurunan. Hal itu terjadi setelah pemerintah melakukan aksi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui treasury operation.
Baca Juga : Berbeda dengan Idulfitri, 5 Negara Ini Justru Rayakan Iduladha Lebih Meriah
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” jelasnya.
Purbaya juga mengungkapkan kondisi pasar obligasi yang tetap terjaga mulai menarik kembali aliran modal asing masuk ke Indonesia.
Menurutnya, stabilitas pasar obligasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
“Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga. Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita,” katanya.
Ia memastikan pemerintah masih menyiapkan langkah lanjutan untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan. “Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan,” tutup Purbaya.
