Iktikaf di 10 Malam Terakhir Ramadan, Ini Amalan Sunnah yang Dianjurkan Ulama
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
14 - Mar - 2026, 06:58
JATIMTIMES - Memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada periode ini adalah Iktikaf, yakni berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ibadah ini biasanya dilakukan untuk mengisi malam-malam terakhir Ramadhan yang diyakini memiliki keutamaan besar, termasuk kemungkinan bertemunya malam Lailatul Qadar.
Baca Juga : Panduan Lengkap Salat Idulfitri 2026: Niat, Bacaan, Tata Cara hingga Doa
Dalam ajaran Islam, Iktikaf bukan hanya disyariatkan pada masa Nabi Muhammad SAW. Ibadah ini juga telah dikenal sejak zaman nabi-nabi terdahulu sehingga disebut sebagai syarai’ al-qadimah atau syariat umat sebelumnya.
Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:
وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang Iktikaf, orang yang ruku’ dan orang yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Rasulullah SAW sendiri diketahui rutin melaksanakan Iktikaf, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Rasulullah melaksanakan Iktikaf pada sepuluh (malam) terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau wafat, lalu (dilanjutkan) istri-istrinya yang i’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Iktikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan termasuk amalan sunnah muakkad atau sangat dianjurkan.
Lalu, apa saja amalan yang dianjurkan ketika seseorang menjalankan Iktikaf?
Penjelasan mengenai hal ini banyak dijelaskan dalam kitab-kitab turats. Salah satunya dalam karya Imam an-Nawawi berjudul al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab.
قال الشافعي والأصحاب فالأولى للمعتكف الاشتغال بالطاعات من صلاة وتسبيح وذكر وقراءة واشتغال بعلم تعلما وتعليما ومطالعة وكتابة ونحو ذلك ولا كراهة في شئ من ذلك ولا يقال هو خلاف الأولى هذا مذهبنا وبه قال جماعة منهم عطاء والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز
“Imam Syafi’i dan ashab (para pengikutnya) berkata, ‘Hal yang utama bagi orang yang beri’tikaf adalah menyibukkan diri dengan ketaatan dengan melaksanakan shalat, bertasbih, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyibukkan diri dengan ilmu dengan cara belajar, mengajar, membaca, dan menulis serta hal-hal sesamanya. Tidak dihukumi makruh dalam melaksanakan satu pun dari hal-hal di atas, dan tidak bisa disebut sebagai menyalahi hal yang utama (khilaf al-aula). Ketentuan ini merupakan pijakan mazhab kita (mazhab Syafi’i), dan pendapat ini diikuti oleh golongan ulama, seperti Imam ‘Atha, al-Auza’i, Sa’id bin Abdul Aziz” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 528).
Dari penjelasan tersebut, orang yang sedang Iktikaf dianjurkan untuk memperbanyak berbagai bentuk ketaatan, seperti salat, zikir, membaca Al-Qur’an, hingga menuntut ilmu.
Baca Juga : Tradisi Unik Lebaran di Berbagai Negara, dari Adu Telur hingga Festival Gula
Penjelasan serupa juga dijelaskan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Mazhab al-Imam as-Syafi’i yang menyebutkan beberapa kesunnahan saat Iktikaf.
يستحب للمعتكف الاشتغال بطاعة الله تعالى، كذكر الله تعالى، وقراءة القرآن، ومذاكرة العلم، لأنه أدعى لحصول المقصود من الاعتكاف. الصيام، فإن الاعتكاف مع الصيام أفضل. وأقوى على كسر شهوة النفس وجمع الخاطر وصفاء النفس. أن يكون الاعتكاف في المسجد الجامع، وهو الذي تقام فيه الجمعة. أن لا يتكلم إلا لخير، فلا يشتم، ولا ينطق بغيبة، ونميمة، أو لغو من الكلام
“Disunnahkan bagi orang yang melaksanakan Iktikaf untuk melakukan beberapa hal. Pertama, menyibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan pada Allah, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an dan diskusi keilmuan. Sebab melaksanakan hal-hal ini akan menuntun terhadap maksud dari pelaksanaan Iktikaf.
Kedua, berpuasa. Sesungguhnya Iktikaf dalam keadaan berpuasa itu lebih utama dan, kuat dalam memecah syahwat hawa nafsu, dapat memfokuskan pikiran dan menyucikan hati.
Ketiga, melaksanakan Iktikaf di masjid jami’, yakni masjid yang didirikan salat Jumat.
Keempat, tidak berbicara kecuali perkataan yang baik. Ia tidak diperkenankan untuk mengumpat, menggunjing, adu domba, dan perkataan yang tidak ada gunanya” (Dr. Mushtofa Said al-Khin dan Dr. Mushtofa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Mazhab al-Imam as-Syafi’i, juz 2, hal. 108).
Dalam literatur fikih dijelaskan bahwa Iktikaf pada siang hari dalam keadaan berpuasa memiliki keutamaan tersendiri. Namun pada bulan Ramadhan, Iktikaf di malam hari juga sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh malam terakhir.
Hal ini karena malam-malam tersebut memiliki kemungkinan bertepatan dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar waktu i’tikaf diisi dengan berbagai ibadah dan amal saleh. Semakin banyak ketaatan yang dilakukan selama i’tikaf, maka semakin besar pula keutamaan yang diperoleh.
Prinsip ini sejalan dengan kaidah yang menyebutkan bahwa semakin banyak amal yang dilakukan, semakin besar pula nilai keutamaannya.
Demikian hal-hal yang disunnahkan dilakukan saat iktikaf. Semoga kita dapat meraih keberkahan dan keutamaan di penghujung bulan Ramadhan. Amin Ya Rabbal Alamin.
